BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang
الحذف
artinya ‘ menghilangkan’, yaitu menghilangkan
salah satu atau beberapa unsur dari konstruksi sintaksis yang lengkap, mulai
dari menghilangkan huruf hijayah yang yang ikut membentuk suatu kata, kelompok
kata sampai menghilangkan satu kalimat atau lebih
Konteks situasi yang mengharuskan hadzf, misalnya :
1.
Keadaan
keritis, seperti keadaan bahaya yang tidak memungkinkan orang mengunakan
kalimat – kalimat secara lengkap, atau mengucapkan kata – kata yang kurang
penting
2.
Kondisi
yang menakjubkan atau sebaliknya, mengerikan, misalnya keindahan surga yang
amat mengagumkan atau azab neraka yang sangat menyeramkan, yang hanya bisa
digambarkan dalam imajinasi, tidak mungkin dijelaskan dengan kata – kata
Hadzf yang akan
dikemukakan adalah :
١-حذف المبتدأ ٢-حذف الفاعل ٣-حدف المفعول به
٤- حدف المعطوف عليه ٥-حدف جواب الشرط
Dalam ‘objek’ حذف مفعول به ada beberapa contoh meniadakan objek yang terdapat
dalam Al- Qur’an meliputi:
(أ). حذف مفعول (شاء يشاء)
(ب). حذف
المفعول به لقصد العموم
(ج). حذف
المفعول به لمراعاة الفاصلة
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa makna dari الحذف ?
2. Bagaimana cara memahami الحذف ?
3. Berapa macam – macam
الحذف ?
C.
Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Untuk
memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen dalam mata kuliah balaghah
2. Tujuan Khusus
a.
Untuk mengetahui apa makna dari الحذف itu sendiri ?
b.
Agar dapat memahami beberapa konteks yang terdapat dalam الحذف ?
c.
Mengetahui beberapa
macam الحذف
BAB
II
PEMBAHASAN
الحذف
Untuk
menciptakan kalimat – kalimat yang efektif ( bernilai balaghah ), disamping
digunakan ١سلوب الايجازseperti dikemukakan
diatas, maka dalam situasi tertentu digunakan ٲسلوب
الحذف
الحذف
artinya
‘ menghilangkan’, yaitu menghilangkan salah satu atau beberapa unsur dari
konstruksi sintaksis yang lengkap, mulai dari menghilangkan huruf hijayah yang
yang ikut membentuk suatu kata,
kelompok kata sampai menghilangkan satu kalimat atau lebih.
Bagian kalimat mana yang dihilangkan, ini dapat diketahui dengan
menggunakan penalaran atau dengan memperhatikan konteks kalimat atau konteks
situasi. Konteks situasi yang mengharuskan hadzf,
misalnya :
3.
Keadaan
keritis, seperti keadaan bahaya yang tidak memungkinkan orang mengunakan
kalimat – kalimat secara lengkap, atau mengucapkan kata – kata yang kurang
penting
4.
Kondisi
yang menakjubkan atau sebaliknya, mengerikan, misalnya keindahan surga yang
amat mengagumkan atau azab neraka yang sangat menyeramkan, yang hanya bisa
digambarkan dalam imajinasi, tidak mungkin dijelaskan dengan kata – kata
Hadzf yang akan
dikemukakan adalah sebagai berikut :
١-حذف المبتدأ ٢-حذف الفاعل ٣-حدف المفعول به
٤- حدف المعطوف عليه ٥-حدف جواب الشرط
ا- حذف المبتدأ
Contoh :
صم بكم عمئ فهم لا يرجعون /………….
((ا
= (……) tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (
kejalan yang benar )
سورة زلنها وفرضنها و انزلنا فيها ءايت بينت لعلكم تذكرون(٥) (النور ا)/ ……… (ب)
= (…….) satu surat yang Kami turunkan ……………….
Dalam ayat diatas,
tersa kata yang berfungsi sebagai subjek (مبتدأ)
tidak tampak, dihilangkan yaitu :
Pada ayat (أ) siapa lagi yang memiliki sifat buruk
seperti itu kalau bukan ‘ orang – orang munafik’ sehingga mutakallimin biasanya
malas untuk menyebut siapa mereka itu.
Walau tidak dijelaskan oleh mutakallimin, mukhatabpun tahu siapa mereka itu.
Jika diucapkan selengkapnya : صم بكم عمي ( المنافقون)
Pada contoh (ب) untuk menimbulkan semangat keingintahuan pembaca atau
pendengar yang baru reda setelah diikutinya nash tersebut samapai dengan
selesai, yaitu pada ayat (ه) ,
selengkapnya : (هذه ) سورة انزلناها
Tiga situasi /
kondisi itulah antaralian yang membuat ( مبتذأ) lebih baik atau perlu dihilangkan = (ألحذف (
٢- حذف الفاعل
(أ) فلولا إذا [بلغت الحلقوم ] . وأنتم حيئذ تنظرون. ( الواقعة -٨٤)
=
Maka mengapa ketika (….) sampai
dikerongkongan, padahal ketika itu kamu melihat
(ب) ووجوه يومئذ باسرة (٢٤) تظن أن يفعل بها فا قرة (٢٥) كلا إذا [ بلغت الترا قى] (٢٦) ( القيامة ٢٤ـ٢٦)
=
dan wajah – wajah (orang kafir ) pada hari itu muram (24 ) mereka yakin bahwa
akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat( 25) Sekli – kali jangan
apabila (…..) telah sampai kekerongkongan (26 )
Memperhatikan konteks makna ayat diatas, tidak sulit bagi pembaca
memahami apa yang dikemukakan para mufassirin seperti ath – Thabaraj
bahwa Fa’il kata [بلغت]
ayat (أ)
dan (ب) adalah ‘ nyawa ’ ( النفس أو الروح ) . Susana kritis pada saat – saat
sakarotulmaut itulah yang ingin ditonjolkan dalam ayat – ayat tersebut srhingga
subjek atau pelaku, yaitu ‘ruh’ menjadi tidak begitu penting untuk disebutkan.
Tanpa disebutkan secara eksplisitpun,
pembaca tidak akan sulit untuk memahami dan menampilkannya sendiri. Disinilah
letak nilai fasahah ayat – ayat tersebut.
٣- حذف المفعول به
Memahami (حذف
) dengan menggunakan penalaran atau konteks berlaku pula dalam hadzf
kata yang berfungsi sebagai مفعول به (
objek ), seperti dalam ayat – ayat berikut :
ألهكم اتكا ثر. حتى زرتم المقابر. كلا سوف {تعلمون}.(التكاثر ١-٣)
=
Bermegah – megahan telah melalaikan kamu (1) samapi kamu masuk kedalam kubur
(2) Janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui(….) (3)
Lengkapnya : Kamu akan mengetahui ‘akibat buruk’ dari
perbuatan lalai karena bermegah – megahan seperti yang tersebut pada ayat (1)
Akan dikemukakan beberapa contoh meniadakan ‘objek’ (
حذف المفعول به ) dalam Al- Quran, yang meliputi :
(أ)
حذف مفعول به [شاء يشاء]
(ب)
حذف المفعول به لقصد
العموم
(ج)
حذف المفعول به لمراعاة الفاصلة
أ). حذف مفعول (شاء يشاء )
Kata شاء يشاء (= ‘ hendak, menghendaki’) adalah fi’il ( kata
kerja ) yang memerlukan objek (مفعول به ), tetapi banyak
ditemui objek kata tersebut tidak disebutkan (dihilangkan) seperti dalam ayat berikut
(ا) قل فلله الحجة البلغة فلو {شاء }لهدنكم اجمعين (الانعام)
=
Katakanlah : “ Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; Maka jika Dia menghendaki
(….) pasti Dia member petunjuk kepada kamu semuanya ’’
(ب) وقل الحق من ربكم فمن { شاء
} فليؤمن ومن شاء فليكفر .....(الكهف ٢٩)
= Dan katakanalah: “
Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barang siapa yang ingin (….)
hendaklah ia beriman, dan barang siapa
yang ingin (…) biarlah ia kafir
Kata شاء teletak sebagai fi’il
syarat, maka objeknya disebutkan dalam ‘ jawab syarat’. Jadi jika objek
ditampilkan, maka terjemahan dapat berbunyi sebagai berikut :
(ا) فلو شاءلهداكم —› فلو شاء (أن يهديكم )
لهداكم
= Jika Dia menghendaki ( memberi petunjuk kepadamu ) pasti
Dia member petunjuk kepdamu
(ب) .......
—›فمن شاء (ان يؤمن ) فليؤمن‘ومن شاء (أن يكفر ) فليكفر
=
Maka barang siapa yang ingin ( beriman ) berimanlah, dan barang siapa
yang ingin (kufur ) biarlah ia kufur
*******
Adapun bila kata (شاء يشاء )
tidak terletak pada kalimat syarat, maka objek yang dihilangkan ditunjukan oleh
kata – kata sebelumnya , misalnya dalam ayat berikut.
والله يهدى من { يشاء } إلى صرط مستقيم
( البقرة ٢١٣)
Asalnya :أي من يشاء ( أن يهديه ) إلى صراط
مستقيمة
ب). حذف المفعول به لقصد العموم
Disini ‘objek’ tidak perlu disebutkan, karena bersifat umum,
seperti dalam ayat- ayat berikut :
(ا)
والله {يدعوا } إلى دار السلم ويهدى من يشاء إلى صراط مستقيم (يونس ٢٥)
= Allah menyeru (…) ke Darussalam (surga
) …..
(٢)
اقرأ باسم ربك الذى {خلق} خلق الإنسن من علق(العلق ١-٢)
= Bacalah dengan nama
Tuhanmu Yang Maha Menciptakan (…)
(٣)
.... قل إن الله لا {يأمر} با لفحشاء أتقولون على الله ما لا تعلمون (الاعراف ٢٨)
= Katakanlah : “
Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (…) ( mengerjakan ) perbutan yang keji.”….
Objek (=مفعول به ) masing – masing kata (يدعو ), kata (خلق ) dan kata (
لا يأ مر) tidak disebutkan dalam ayat – ayat tersebut, untuk menunjukan
makna yang bersifat umum.
Pada ayat (1) : Allah menyeru ( setiap orang )
Pada ayat (2) : Yang Menciptakan ( semua makhluk )
Pada ayat (3) : Allah tidak menyuruh ( sisapapun )
ج). حذف المفعول به لمراعاةالفاصلة
Artinya, peniadaan ‘ objek’ dimaksudkan agar ‘Fashilah’ (
bunyi akhir ayat ) tetap sama dengan bunyi akhir ayat – ayat lainnya
(ا). والضحى واليل إذا سجى. ماودعك ربك وما{
قلى} (الضحى ١-٣)
…. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula ) benci ( kepadamu).
Jika objek ditampilkan :(وما قلاك)
maka bunyi akhir ayat (3) ini tidak sama ( tidak bersajak) dengan bunyi akhir
ayat (1) dan (2)
(٢).
وما خلق الجن والإ { ليعبدون } . ما أريد منهم من رزق وما أريد أن { يطعمون }
(الذاريات ٥٥-٥٧)
….(55)
Dan Aku tidak menciptakan jin dn manusia melainkan supaya mereka mengabdi (
kepada – Ku) (56)….. dan aku tidak menghendaki supaya mereka member- ( Ku)
makan (57)
Jadi meniadakan objek مفعول به pada ayat – ayat diatas tampaknya dimaksudkan
agar ‘ sajak’ فاصلة ( bunyi akhir ayat )
tetap terjaga. Jika maf’ul bih tidak dihilangkan, masing – masing akan berbunyi ( أهننى ) (وما
قلاك) , ( يعبدونى), يطعمو ), أكر منى )
حذف المعطوف عليه -٤
(أ). كان الناس أمة وحدة فبعث الله النبين
مبشرين وأنزل معهم الكتب بالحق ليحكم بين الناس فيما اختلفوا فيه (البقرة ٢١٣)
=
Manusia itu adalah umat yang satu(…), lalu Allah mengutus para NAbi, sebagai
pemberi peringatan, dst
Bagaimana Allah mengutus para Nabi kepada manusia yang sudah baik –
baik, yang sudah dalam keadan bersatu? Pertanyaan ini menimbulkan pemahaman
adaya ungkapan yang tidak disebutkan disini, yaitu (قاختلقوا)
selengkapnya:
كان الناس أمة واحدة –
{فاختلفوا }- فبعث الله النبيين مبشرين ومنذرين الخ
=Manusia
itu adalah umat yang satu ( kemudian timbul perselisihan diantara mereka ) maka
Allaoh mengutus para Nabi, sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan….
Menemukan ungkapan (فاختلفوا)
tersebut tidaklah sulit, karena ditunjukan kemudian oleh ungkapan (اختلفوا) pada ayat selanjutnya :
ليحكم بين النلس فيما اختلفوا فيه
= untuk member keputusan diantara manusia tentang perkara yang
merka perselisihkan
Demikianlah menghilangkan (فاختلفوا) menjadikan ayat ini
ayat ini ringkas padat, yang
andai kata ditampilkan justru akan menimbulkan pengulangan yang mubazir, bahkan
akan terasa mungurangi efektifitas ( kebalaghahan ) ayat ini.
٥-حذف جواب الشرط
(أ). فإن خفتم
فر جالا اوركبانا فإذاأمنتم فاذكرواالله....(البقرة ٢٣٩)
=Jika kamu dalam keadaan
takut ( bahaya ) maka (…) sambil berjalan atau berkendara , kemudian apabila
kamu telah aman, maka sebutlah Allah.
أي فإن خفتم فر
جالا اوركبانا
Tema
ayat ini beserta ayat sebelumnya adalah
tentang wajibnya shalat dilakukuan walaupun dalam keadan takut, seperti dalam
situasi peperangan yang tidak memungkinkan orang berbicara dengan kalimat -
kalimat lengkap. Maka dalam keadaan
darurat seperti ini ‘ jawab syarat’
yakni kalimat (صلوا)dihilangkan agar
perhatian muhatab terfokus hanya kepada yang belum mereka ketahui saja, yaitu
‘sambil bejalan kaki (رجالا)’
atau sambil berkendaraan (ركبانا)
Kemudian bila kamu telah aman, maka
shalatlah! Disini- dalam keadaan aman- perintah shalat tidak ditampilkan dengan
(فصلوا) tetapi dengan (فذكرواالله) = ingatlah kepada Allah, kiranya untuk
mengingatkan bahwa dalam keadaan aman, lakukanlah shalat secara sempurna,
dengan khusyu, dengan memperhatikan ini shalat, yaqitu mengingat Allah (
dzikrullah )
Demikianlah
ayat yang mengandung (الحذف)
ini dapat menimbulkan sugesti tentang wajibnya shalat dalam eadaan apapun,
sebagai ibadah yang dapat membuat manusia merasa dekat senantiasa ingat ( zikir
) kepada Maha Pencipta
BAB III
Kesimpulan
الحذف
artinya ‘ menghilangkan’, yaitu menghilangkan
salah satu atau beberapa unsur dari konstruksi sintaksis yang lengkap, mulai
dari menghilangkan huruf hijayah yang yang ikut membentuk suatu kata, kelompok
kata sampai menghilangkan satu kalimat atau lebih. Beberapa macam hadzf yaitu :
a. حذف المبتدأ yaitu menghilangkan isim
marfu’ yang bebas / tidak didahului oleh
amil – amil lafdziyah
b. حذف الفاعل yaitu menghilangkan isim marfu’ yang sebelumnya disebutkan
fi’ilnya atau menghilangkan pelaku dalam suatu pekerjaan yang letak kalimatnya
sesudah fi’il
c. حذف المفعول به yaitu menghilangkan isim yang terkena pekerjaan fa’il ( pelaku
)
Akan dikemukakan beberapa contoh meniadakan ‘objek’ (
حذف المفعول به ) dalam Al- Quran, yang meliputi :
(أ)
حذف مفعول به [شاء يشاء]
(ب)
حذف المفعول به لقصد
العموم
(ت)
حذف المفعول به لمراعاة الفاصلة